You are currently browsing the tag archive for the ‘Blitar’ tag.

Sabtu, 28 Februari 2009, pukul 15.30 wib

Episode ini mengisahkan pengalaman Gundul mendalami dua kesenian di dua daerah yang berbeda, Reyog di Ponorogo dan Jaranan di Kediri.

Reyog dan Jaranan sebenarnya memiliki akar historis yang sama yaitu mengisahkan proses perjalanan Klono Sewandono atau Pujangganom, pangeran di kerajaan wengker (ponorogo), melamar Dewi Songgolangit, putri Kediri yang sangat cantik.   Namun tak hanya Pujangganom yang tertarik, banyak raja-raja dan pangeran lain yang berminat, termasuk Singo ludoyo (singo barong) dari Blitar.

Karena persaingan, terjadi peperangan antara Klono Sewandono dan Singo Barong.  Singo Barong kalah, dan memohon agar tidak dibunuh.  Prabu Klono pun mengabulkan asal Singo Barong mau mengantar kedua mempelai pulang ke Wengker.  Nah iring-iringan pengantin inilah yang dituangkan dalam kesenian Reyog dan Jaranan.

Walau memiliki unsur-unsur yang sama, seperti jaranan, ganongan si tokoh jenaka, dan barongan, dua kesenian ini tetap memiliki perbedaan.   Jaranan di Kediri menjadi seni hiburan rakyat dan mengandung unsur mistis yang kental.  Pemangilan roh-roh halus menjadi ciri khasnya.  Barong pada Jaranan pun berwujud ular naga, bukan kepala macan dan dadak merak seperti pada pementasan reyog.  Tokoh-tokoh tambahan binatang seperti babi hutan yang menjadi pengawal barong, ada pada Jaranan.

Dalam episode ini kami mencoba menyuguhkan proses pembuatan pernak-pernik reyog.  Juga pengalaman Gundul belajar melakoni tokoh ganongan yang jenaka.  Belajar pula cara menggunakan barongan lengkap dengan mengunakan kekuatan gigi dan leher.  Di Kediri Gundul juga memerankan tokoh ganongan, sampai mengalami ‘kemasukan’ saat menggunakan kuda lumping.

Sabtu, 21 Februari 2009, 15.30 wib

Setiap daerah yang dilalui Gundul punya ciri khas masing-masing, dan menjadi kebanggaan masyarakatnya.  Dalam episode ini Gundul menceritakan pengalaman perjalanan di Jawa Timur, tepatnya di Blitar dan Kediri.  Blitar terkenal dengan Ikan Koi nya, sedang Kediri terkenal sebagai Kota Tahu.

Demam Koi sudah lama melanda kota Blitar, kota kelahiran presiden pertama kita, Bung Karno.  Hingga sekarang, banyak petak-petak lahan berubah menjadi kolam pemijahan, pemeliharan, dan pembesaran ikan Koi.

Ikan Koi adalah ikan hias asal Jepang.  Ikan ini sebenarnya masih satu spesies dengan Ikan Mas yang sering kita konsumsi.  Namun Koi memiliki corak warna yang indah pada punggungnya.   Sehingga sangat cocok dipelihara sebagai ikan hias di kolam.

Mengapa demam Koi besar pengaruhnya di Blitar?. Banyak orang yang berhasil memelihara bahkan memijahkan Ikan Koi di berbagai daerah.  Namun jarang yang bisa memperoleh warna dan corak yang baik.   Nah, justru pembudidaya Blitar sukses memperoleh Koi-Koi yang bagus bahkan sesuai dengan kualitas perlombaan atau kontes.   Dengan demikian Blitar pun dikenal sebagai Kota Koi Indonesia

Selain itu dari sisi ekonomis memelihara ikan koi jauh lebih menguntungkan dibanding ikan konsumsi lainnya.  Dengan biaya pakan yang sama, ikan koi memiliki harga yang jauh lebih tinggi.   Ikan Koi dengan panjang sekitar 15 cm bisa dijual dengan harga 10-15 ribu per ekor.  Bahkan di Jakarta bisa mencapai harga 25 ribu per ekor, harga yang sama dengan satu kilo ikan mas dewasa.

Di Blitar, Gundul bekerja pada pembudidaya sekaligus pengumpul Koi.  Mulai menyortir, merawat, sampai mengemas ikan koi dilakoni Gundul dengan sungguh-sungguh.

Kisah Gundul bersama ikan Koi dirajut dengan pengalaman Gundul bersama dengan pembuat tahu tradisional di Kediri.   Walau sederhana, membuat tahu ternyata tak gampang.  Tahu ternyata diperoleh dari endapan rebusan bubur kedelai.   Endapan ini kemudian disaring dan diberi tekanan atau dipress.  Alat pres yang digunakan pun hanya menggunakan selembar papan yang ditimpa dengan batu kali yang besar.

Setelah seperempat jam, tahu pun terbentuk.  Namun kembali gundul menemukan kesulitan kedua, yaitu memotong tahu.  Memotong tahu sebenarnya hanya menggunakan pisau dan papan penggaris.  Namun  harus mempertimbangkan aspek ekonomis, yaitu jumlah tahu yang berkaitan langsung dengan hasil yang diperoleh.  Tahu cetakan besar harus dipotong menjadi 70 potong tahu kecil atau 40 potong tahu besar.  Jadi meleset sedikit saja, jumlah tahu akan berubah.

August 2017
M T W T F S S
« Jan    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Sekilas Info

Mulai 13 Desember 2008. Program JSG tayang setiap sabtu, pukul 15.30 wib, di Trans7

Top Clicks

  • None

Kunjungan

  • 101,578 hits