Sabtu, 25 Juli 2009, pukul 15.30 WIB

Di kaki Gunung Cikuray, Garut, Gundul mengenal pembudidayaan ulat sutera. Ikut membesarkan ulat sutera sampai menjadi kokon atau kepompong, bahan dasar pembuatan benang sutera yang mahal.
Makanan utama ulat sutera adalah daun murbei. Dan dalam sehari, ulat sutera bisa empat sampai lima kali makan. Menghabiskan sekitar 400 sampai 500 kilogram daun murbei per kotak ulat sutera per harinya. Jadi bisa dibayangkan berapa luas kebun murbei yang harus disiapkan pembudidaya.
Setelah 27 hari, atau menjelang akhir tahap/fase ke lima pertumbuhannya, ulat sutera tak lagi banyak memakan daun. Frame atau bingkai khusus diletakkan pada rak pemeliharaan. Frame berguna sebagai media ulat sutera bermetafosa menjadi kepompong atau kokon.
Begitu frame diletakkan, ulat sutera seolah diberi komando menaiki dinding frame dan mulai membalut dirinya membentuk kepompong atau kokon.

Petualangan Gundul kali ini dirangkai dengan keunikan Pencak Ular Garut. Seni beladiri khas Garut, dengan menggunakan ular sebagai medianya. Ular yang biasa digunakan adalah ular lingas atau ular kayu atau biasa juga disebut ular koros. Walau tak berbisa, ular ini cukup lincah, hingga sulit didekati. Dengan kepiawaiannya menangani hewan melata ini, Gundul ikut membantu menangkap beberapa ular lingas. Sampai saat pertunjukan pencak ular, Gundul pun tak mau ketinggalan untuk mencoba kesenian beladiri yang unik ini.