Sabtu, 11 April 2009, pukul 16.30 wib

Gundul kali ini berkisah tentang pengalamannya di antara ratusan ular dan ribuan tokek. Merasakan berulang kali gigitan binatang-binatang melata ini. Hidup di penangkaran ular juga hidup sebagai pemburu tokek.

Pengalaman merawat ular diperoleh Gundul di Gunung Baung, Jawa Timur. Ratusan ular-ular hasil sitaan BKSDA Jawa Timur, di kumpulkan di sini untuk dipelihara dan dikembangbiakkan di kandang semi alami. Tugas pertama Gundul adalah memindahkan ular, dari karantina ke kandang semi alami yang baru.
Pertama-tama Gundul berusaha memindahkan ratusan ular tak berbisa dari ruangan karantina yang sempit. Walau tak berbahaya, berkali-kali taring ular berhasil menembus kulit Gundul.
Kemudian Gundul berupaya memindahkan ular-ular kobra dalam kotak khusus. Pekerjaan ini sungguh membahayakan, sedikit lengah, nyawa taruhannya. Jari telunjuk Gundul sempat terserempet taring ular hingga berdarah.
Dari penangkaran ular, Gundul menjadi pemburu tokek di probolinggo. Mencari cicak besar dan menjualnya ke pengumpul tokek.
Siang malam gundul mencari tokek, di antara batang pepohonan, di rimbunan batang bambu tua, juga diantara rumah-rumah warga di pinggiran probolinggo.
Pak Mistari, kenalan Gundul kemudian mengajak Gundul membantunya bekerja di pengumpul. Mengolah daging tokek sebelum dijual kembali. Pengumpul sendiri memiliki rumah tokek berdinding kawat yang cukup besar. di dalamnya ribuan tokek hidup menunggu pesanan dari konsumen.
Dua karung tokek hidup diambil dari kandang. Disembelih dan disiangi isi perutnya. Daging tokek ini kemudian dijemur sampai kering untuk nantinya diekspor ke berbagai negara, seperti Cina, Hongkong, dan Taiwan.