You are currently browsing the monthly archive for April 2009.

Sabtu, 18 April 2009, Pukul 16.30 WIB

Bata Putih adalah bata khas madura yang dibuat dari batuan kapur.  Bukan dicetak seperti umumnya bata merah dan batako, namun dibentuk langsung dari batuan kapur yang digergaji. Batu putih diambil dari dinding gua.  Kelompok perajin bata biasanya patungan menyewa lahan untuk digali dan diambil batuan kapurnya.

Gua tambang bata putih  pun cukup unik.  Ribuan bekas gergaji di dinding membentuk bidang datar persegi yang indah, seolah membentuk suatu ornamen yang khusus.  Apalagi ditambah cahaya lampu minyak tanah di setiap sudutnya.

Dengan gergaji khusus dinding gua dipotong menjadi bongkahan-bongkahan besar.  Bongkahan ini kemudian di gergaji kembali menjadi bentuk persegi kecil sesuai ukuran bata yang diinginkan.     Penggergaji adalah pekerjaan kaum pria, sedangkan kaum wanita bertugas mengangkut bata putih keluar gua.  Tak kalah dengan kaum suami, kaum wanita juga pekerja keras.  Mereka mampu membawa llima belas bata sekaligus dalam jinjingannya.

Dari kegelapan gua,  Gundul mencoba ketinggian pohon siwalan atau pohon lontar.   .  Memanjat dengan menggunakan besi khusus, untuk mengambil air legen atau niranya.   Air legen siwalan, diolah penduduk setempat menjadi gula siwalan, yang dicetak dalam anyaman daun lontar khusus.

Advertisements

Sabtu, 18 April 2009, Pukul 16.30 wib

Suku Sasak adalah suku asli yang mendiami Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat.   Di tengah arus modernisasi, beberapa kelompok masyarakatnya tetap mempertahankan tradisi kehidupan nenek moyang mereka.   Mulai tata cara hidup, berkeluarga, bersosialisasi, sampai bentuk rumah-rumah sederhana beratap jerami.   Salah satu perkampungan asli sasak yang ditemui Gundul adalah Kampung Nde, di kec. Pujut,  Lombok Tengah.

Sepanjang tahun,  masyarakat Nde menggantungkan hidup dari hasil pertanian mereka.  Hasil bercocok tanam yang dilakukan pada musim penghujan.   Gabah dan semua hasil panen di musim ini, dimasukkan dalam lumbung padi besar, yang digunakan bersama oleh tiga sampai lima kepala keluarga.  Lumbung padi sasak sendiri cukup unik, berupa bangunan pangung tinggi beratap jerami.   Bentuknya sangat khas, hingga digunakan sebagai salah satu maskot pulau lombok.

Banyak keunikan lain yang ditemukan Gundul di kampung ini, salah satunya adalah pengunaan kotoran sapi sebagai pelapis lantai rumah.    Kotoran sapi berguna untuk mengeraskan lantai, sekaligus pula untuk meredam munculnya debu dari tanahliat lantai rumah.

Di hari berikutnya, Gundul mencoba jalan-jalan  keluar kampung.    Di Kecamatan Janapraya, Lombok Tengah, Gundul menemukan tradisi makan tanah yang telah lama di lupakan masyarakat suku sasak.   Namun di kecamatan ini Tanah Kaken (istilah; kaken = makan) masih banyak dikonsumsi, terutama untuk ibu-ibu hamil, serta obat sakit perut.

Tanah Kaken adalah tanah liat khusus yang berwarna agak kemerahan.  Letaknya berbeda di masing-masing daerah, tergantung jenis tanah pembentuknya.  Di beberapa tempat di lombok,  pencari tanah kaken harus menggali  sampai tiga atau empat  lapisan.  Namun di Janapraya, masyarakatnya cukup menggali sekitar 50 centimeter saja.

Dari Janapraya, Gundul menonton keramaian di Kecamatan Kopang.  Sore itu penduduk sedang menggelar Perisean, tradisi pertarungan antar jagoan kampung (pepadu) yang bersenjatakan sebatang rotan dan tameng.  Mereka beradu menampilkan kekuatan dan ketrampilan masing-masing, saling pukul, dan saling tangkis.    Target utama petarungan adalah kepala lawan.  Bila seorang petarung berhasil membuat luka di kepala lawan, maka dia akan menang mutlak.   Bila tidak, maka pepadu tetap bertarung sampai habis ronde.  Kemenangan hanya berdasarkan banyaknya pukulan di badan lawan, namun ini bukan kemenangan yang sesungguhnya.

Pukulan rotan di punggung juga berbahaya.  Dalam pertandingan besar (antar desa, kecamatan, kabupaten) petarung menggunakan rotan yang telah dilapisi dengan pecahan kaca pada setengah bagian ujungnya.  Ini untuk menghindari agar lawan tidak berani merebut atau menjepit senjata di bawah ketiaknya.

Selain pepadu khusus, petarung perisean juga berasal dari penonton yang ditunjuk oleh tukang adu.   Mereka menilai lawan yang seimbang di masing-masing pihak untuk diadu di arena.   Karena tak tau peraturan ini, Gundul ditarik menjadi petarung.  Walau mencoba menghindar, namun desakan dan dorongan penonton di belakangnya tak bisa dielakkan.

Lawan Gundul sendiri masih kalah tinggi dengan Gundul.   Hingga Gundul akhirnya nekat untuk ikut.  Namun sebenarnya Gundul tak tahu kalau pria ini adalah salah satu pepadu desa yang tangguh.

Mampukah Gundul bertarung? dan berapa pukulan rotan yang diterima di punggungnya?  nantikan tayangannnya.

Sabtu, 7 April 2009, Pukul 16.30 wib

Sabtu, 11 April 2009, pukul 16.30 wib

Gundul kali ini berkisah tentang pengalamannya di antara ratusan ular dan ribuan tokek. Merasakan berulang kali gigitan binatang-binatang melata ini. Hidup di penangkaran ular juga hidup sebagai pemburu tokek.

Pengalaman merawat ular diperoleh Gundul di Gunung Baung, Jawa Timur. Ratusan ular-ular hasil sitaan BKSDA Jawa Timur, di kumpulkan di sini untuk dipelihara dan dikembangbiakkan di kandang semi alami. Tugas pertama Gundul adalah memindahkan ular, dari karantina ke kandang semi alami yang baru.
Pertama-tama Gundul berusaha memindahkan ratusan ular tak berbisa dari ruangan karantina yang sempit. Walau tak berbahaya, berkali-kali taring ular berhasil menembus kulit Gundul.
Kemudian Gundul berupaya memindahkan ular-ular kobra dalam kotak khusus. Pekerjaan ini sungguh membahayakan, sedikit lengah, nyawa taruhannya. Jari telunjuk Gundul sempat terserempet taring ular hingga berdarah.
Dari penangkaran ular, Gundul menjadi pemburu tokek di probolinggo. Mencari cicak besar dan menjualnya ke pengumpul tokek.
Siang malam gundul mencari tokek, di antara batang pepohonan, di rimbunan batang bambu tua, juga diantara rumah-rumah warga di pinggiran probolinggo.
Pak Mistari, kenalan Gundul kemudian mengajak Gundul membantunya bekerja di pengumpul. Mengolah daging tokek sebelum dijual kembali. Pengumpul sendiri memiliki rumah tokek berdinding kawat yang cukup besar. di dalamnya ribuan tokek hidup menunggu pesanan dari konsumen.
Dua karung tokek hidup diambil dari kandang. Disembelih dan disiangi isi perutnya. Daging tokek ini kemudian dijemur sampai kering untuk nantinya diekspor ke berbagai negara, seperti Cina, Hongkong, dan Taiwan.

Sabtu, 28 Maret 2009, pukul 15.30 Wib

April 2009
M T W T F S S
« Mar   Jun »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Sekilas Info

Mulai 13 Desember 2008. Program JSG tayang setiap sabtu, pukul 15.30 wib, di Trans7

Top Clicks

  • None

Kunjungan

  • 103,531 hits