Sabtu, 07 Maret 2009, pukul 15.30 wib

Nusa adalah pulau, dan barong adalah ular.  Pulau ular, demikian arti dari nama Nusa Barong, salah satu pulau terluar di selatan Jawa.  Gundul tertarik untuk menjelajahi pulau tak berpenghuni ini.

Dari Kecamatan Puger, Jember, Jatim, Gundul menumpang perahu nelayan.  Membalas jasa dengan membantu nelayan mencari ikan di laut.  Namun di Musim Barat, rejeki tak menentu.  Beberapa kali menjaring tak ada hasil yang diperoleh, justru penyu sisik yang menyangkut di jaring nelayan.

Lewat tengah hari, Gundul menginjakkan kaki di Nusa Barong.  Pulau ini tak berpenduduk, hanya sebagai persingahan nelayan saat mencari ikan atau lobster.    Di tengah pulau Gundul menemukan rawa tadah hujan yang indah, namun airnya tak bisa diminum, kesat dan pahit, tanda tingginya kandungan kapur.    Gundul pun mencari tanaman merambat (liana) yang biasanya mengandung banyak air, namun tak satupun yang mengandung air di batangnya.  Cukup aneh untuk hutan tropis lebat seperti di Nusa Barong.   Pantas saja tak ada manusia yang mau hidup di sini.

Walau menurut nelayan masih banyak ular, rusa, babi hutan, juga termasuk sanca kembang besar yang ditemukan Gundul dalam perjalannya di hutan, entah darimana mereka memperoleh air, mungkin telah terbiasa dengan air kapur dari rawa di tengah pulau.

Tiba di daerah pantai kembali, Gundul bertemu dengan pencari lobster yang mendirikan tenda di sekitar pantai.   Mereka menggunakan pintor sebagai alat tangkapnya.  Pintor adalah jaring dengan bingkai berupa lingkaran besi berdiameter sekitar 50 cm.   Pintor cukup diberi umpan berupa daging ikan dan diletakkan di dasar karang, tempat lobster berada.    Lobster yang tertarik dengan umpan akan masuk ke lingkaran jaring, namun tak bisa keluar karena kaki berdurinya tersangkut jaring.  Beberapa kali mencoba pintor bersama nelayan, Gundul memperoleh lobster-lobster berukuran  kecil.  Lobster ini nantinya dijual nelayan ke pungumpul untuk dibesarkan kembali.

Dari nelayan lobster Gundul memperoleh cerita mengenai gua-gua Jepang  di atas bukit.   Gundul pun mendaki bukit terjal berbatu mencari bekas peninggalan perang dunia II.    Gua yang dimaksud nelayan ternyata adalah bangunan bunker pertahanan sekaligus lokasi meriam Jepang.   Tak tahu dimana sisa besi meriamnya, namun jendelanya tepat mengarah ke daratan utama, mengawasi setiap kegiatan di perairan jawa.  Sambil menikmati pemandangan dari atas bunker, Gundul menikmati makanan berupa daging kelelawar dan tokek yang ditemukannya.