You are currently browsing the monthly archive for January 2009.

Sabtu, 31 Januari 2009, 15.30 wib

Heboh lumpur panas seperti Lapindo di Sidoarjo, sudah lama dirasakan masyarakat desa kuwu, Grobogan, Jawa Tengah.   Bedanya, lumpur panas di Kuwu bisa menjadi sumber PAD dan nafkah masyarakat setempat.  Sedangkan Lapindo bikin negeri bangkrut.

Bledug Kuwu, demikian sumber lumpur ini dinamakan.  Bledug berasal dari suara letupan yang dikeluarkan, dan Kuwu nama desa lokasi letupan lumpur ini.  Selain sebagai objek pariwisata potensial,  masyarkat kuwu sudah lama memanfaatkannya sebagai bahan pembuatan garam.

Air asin yang keluar seiring letupan lumpur panas, dialirkan menuju kolam-kolam di sekitar lakah.  Lakah adalah rak penjemuran garam yang panjangnya lebih kurang 50 meter.   Air asin ini kemudian dituang dalam cetakan-cetakan bambu dan dijemur di atas lakah.

Dua hari kemudian (bila panas terik), garam sudah bisa dipanen.  Dikerik dari cetakan bambu dan ditiriskan sisa airnya.  Sisa air ini dinamakan ‘air bleng’, digunakan untuk merangsang pembentukan garam, namun bisa pula dijual sebagai bumbu masakan.

Pekerjaan ini lah yang dilakoni Si Gundul selama berada di desa Kuwu, Grobogan.  Merasakan keuletan masyarakat setempat, sambil menikmati keindahan fenomena lumpur Bledug Kuwu.

Sabtu, 24 Januari 2004, 15.30 wib.

Pemandian umum, pencucian motor/mobil, ataupun kolam renang, lazim kita dengar.  Namun di Jati Anom, Klaten, Gundul menemukan pemandian khusus sapi.    Lokasi pembersihan sapi-sapi dari lumpur dan kotoran sebelum dipajang di pasar ternak.

Di awal episode ini, Gundul tertarik menjadi kuli ‘ngguyang’ atau kuli mandi sapi.   Berjalan menerobos keramaian pasar ternak, menawarkan jasa memandikan sapi.  Pelanggan pertama Gundul adalah sapi jantan muda yang liar dan gesit.  Sapi ini menyulitkan pekerjaan Gundul, dari menggiringnya sampai mandi selalu meronta.  Hingga suatu saat kakinya luka akibat ulah liarnya.

Sekali memandikan, pemilik sapi membayar sewa pemandian sebesar tiga ribu rupiah, plus sabun colek, sikat, dan air sepuasnya.   Sementara sang kuli dibayar 8-10 ribu rupiah per sapi.

Dari pasar Jati Anom, Gundul beranjak ke Boyolali, bekerja di salah satu peternakan sapi perah.  Kegiatan tersibuk adalah sebelum pemerahan susu, karena sapi dan kandangnya harus dalam keadaan bersih.  Jadwal pemerahan sendiri sekitar pukul 1 dinihari dan pukul 11 siang.

Membersihkan kandang yang penuh kotoran, memandikan sapi, memerah susu, sampai memberi makan konsentrat dan rumput gajah, dilakoni Gundul di peternakan ini.

Jumat, 24 agustus 2007, 18.00 wib

Episode ini merupakan kisah Gundul bersusah payah melihat Badak Jawa.  Dimulai dengan pertemuan Gundul dengan pembuat aren di desa Ujung Jaya, desa terakhir sebelum Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK).   Di desa ini, Gundul menyempatkan diri belajar membuat gula dari nira aren.

Upaya Gundul untuk melihat badak jawa belum juga membuahkan hasil.  walau semalaman menunggu di kubangan, melumuri badan dengan lumpur kubangan dan kotoran badak, membuat shelter di atas pohon, badak seolah tau kehadiran makhluk asing di sekitarnya.

Episode ini adalah tayangan perdana JSG.   Dalam cerita perjalanan pertamanya ini, Gundul ikut truk terbuka sampai ke Serang, Banten.  Di sini Gundul bertemu dengan pemuda-pemuda banten yang sedang berlatih debus.  Sampai akhirnya Gundul ikut mencoba sayatan golok, siraman air keras, juga tidur diatas duri salak.  Cerita debus ini dirangkai dengan pertemuan Gundul dengan perajin bata merah di sekitar Panimbang.  Gundul pun ikut belajar membuat bata merah.

January 2009
M T W T F S S
    Feb »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Sekilas Info

Mulai 13 Desember 2008. Program JSG tayang setiap sabtu, pukul 15.30 wib, di Trans7

Top Clicks

  • None

Kunjungan

  • 101,599 hits